Adalah seorang yang berasal keluarga biasa anak ke dua (2) dari empat (4) bersaudara, yang berasal dari daerah sumur bandung tepatnya yaitu desa kembaran wetan, beliau beranjak memulai karir dan tinggal di sisi utara kadipaten atau yang sekarang disebut kabupaten, tepatnya di daerah (pungkuran) antara sekitar tahun 1917-1930an. Di awal karir sebagai tukang becak pada tahun 19XX dan itu pun dalam waktu yang cukup lama, berlanjut memulai berdagang pertamanya pernah sebagai penjual soto dengan label "lumayan" (di teruskan oleh anak yang di asuhnya yaitu ibu yati di gang mayong)
kemudian pernah berjualan tahu gecot juga (diteruskan oleh adiknya yang cukup dikenal yaitu tahu gecotnya mas sanwirodji "gecot pak narsan" disisi timur kantor pos ) dan lanjut lanjut cerita rupanya sebelum turun berjualan bakmie dan sate, ternyata sunardi (pak sunar) juga pernah bejualan gorengan mendoan dan mulai terkenal diera 1935an jualan gethuk, nama beliau mulailah dikenal dengan sebutan bakul gethuk sing rasane enak ya getuke kaki sunar.. Dari tukang becak sampai berjualan tahu gecot dsb, sunardi memulai karirnya yang baru sebagai penjual sate ayam khas wong purbalingga dan berjalan lancar hingga kemudian mulai berdagang bakmie..
Awal mulanya sunardi berkeliling menjajakan bakmie dan satenya sendirian era tahun 1947an (para sesepuh orang tiong hoa banyak ngomong begitu, saya masih kecil sunardi sudah berkeliling ucapnya) dan selang beberapa tahun sunardi berkeliling ditemani oleh kang bada sampai berhenti putar kota dan menetap menempati lokasi berjualan baru di terminal dokar (karang anyar) lanjut berpindah pindah kedua di pasar lama (taman kota purbalingga) di alun-alun (depan hotel nusantara) sampai terakhir di perempatan timur alun-alun kota purbalingga.. Masih disekitar perempatan timur alun-alun kota purbalingga, ketika itu pelanggan warung bakmie dan sate sunar sudah mencapai ratusan bahkan ribuan pelanggan lokal maupun luar daerah. Usaha yang dikelola beliau berkembang pesat dan sayangnya di tahun 1985an warung bakmie dan satenya terhenti, sunardi / pak sunar wafat dan usaha bakmie juga sate yang selama ini beliau tekuni harus berhenti, Dilanjutkan istrinya ibu sunar (ny.khalimah)
Berlanjut cerita, ternyata Alm Sunardi ini juga pernah membekali ny.khalimah sebagai pembuat "petis" enak manis gurih dan tergolong terkenal paling dicari petis dan lontong ibu khalimah, lontong beliau enak juga awet, karena proses pembuatan lontong direbus hampir lebih 9 jam diatas tungku membuat awet hingga 8 harian masih enak tidak berubah warna dan rasa juga tidak basi kalau dimakan sudah lewat 7 hari.
kembali pada lanjut cerita, warung bakmie dan sate pak sunar yang di kelola ny.sunardi akhirnya turun temurun sampai cucu perempuan dan buyut laki laki dari seorang sunardi, karena faktor usia ibu khalimah sunar mewariskan usaha dagangan bakmie dan satenya kepada cucu dan buyutnya yaitu Eni. Sampai sekarang cita rasa bakmie dan sate ayam pak sunar masih menjadi buruan pelanggan dan penikmatnya.